Menjelajahi Pegunungan Cordillera, Mengunjungi Keturunan Ifugao 

 
     Pegunungan Cordillera membentang di empat provinsi di sebelah utara Pulau Luzon, pulau terbesar di Kepulauan Filipina. Keempat provinsi tersebut yakni Benguet, Mountain Province (Bontoc), Kalinga-Apayao, dan Ifugao.

     Cordillera memang istimewa, pegunungan di sana bukan dataran tinggi biasa yang sekedar menawarkan panorama indah. Lapis demi lapis bentang alam di sana sangat kaya dengan mineral.
     Tidak heran jika sejak abad ke-16, Bangsa Spanyol telah mendatangi pegunungan ini, dilanjutkan Bangsa Amerika Serikat di abad ke-20. Dari dataran tinggi ini lah 80 persen emas Filipina berasal.

     Emas-emas dari Cordillera ini boleh jadi menyelamatkan Amerika Serikat di masa-masa depresi besar di 1927. Tercatat hanya 94 perusahaan tambang beroperasi di 1929, namun angka tersebut meningkat beribu-ribu kali dalam waktu empat tahun menjadi 17.812 perusahaan tambang.

     Hingga kini masih ada beberapa perusahaan tambang yang beroperasi di sana, dan semua milik asing.
     Namun bagi penduduk lokal, daerah pegunungan menawan ini hanya sebagai berkah karena menjadi tempat tersubur menanam segala jenis sayur-mayur dan buah-buahan bagi rakyat Filipina. Daerah pegunungan ini memasok 60 persen sayur dan buah-buahan ke seluruh penjuru Filipina.

     “Mereka (warga Bontoc) datang ke sini (Banaue) khusus untuk menanam kentang, karena cuma di sini bisa tumbuh subur. Sayur dan buah-buahan semua dari pegunungan sini,” kata salah seorang keturunan Ifugao yang menjadi petugas wisata di Banaue, Rachel Humiwat.

     Dari wilayah ini pula, menurut dia, sebagian besar pasokan beras untuk Filipina berasal. Karena di daerah ini pula dikenal dunia sebagai tempat terasiring tertua berusia 2000 tahun berada.

     Butuh waktu dan tenaga untuk menjelajah Cordillera. Paling tidak butuh waktu 10 jam perjalanan darat dengan bus malam dari Manila hanya untuk mencapai salah satu provinsi di sana, yakni Ifugao.

     Transportasi darat ini pula satu-satunya angkutan yang dapat membawa banyak pengunjung ke daerah pegunungan di ketinggian mencapai 3000 hingga 6000 kaki berhawa sejuk, tempat suku-suku gunung Filipina berdiam.

     Tidak ada lapangan terbang, pelabuhan, atau pun dermaga karena tidak ada sungai besar yang mengalirkan air dan mampu menghanyutkan perahu dari dan menuju provinsi tersebut. Hanya jalan menanjak dan semakin berkelok saat mendekat ke bagian tengah pegunungan.

Keturunan Ifugao 

     Ifugao adalah nama suku yang sekarang juga dijadikan nama provinsi di Filipina. Suku ini hanya salah satu suku dari tujuh suku besar yang mendiami Pegunungan Cordillera di utara Pulau Luzon.

     “Ada 11 municipalities (pemerintahan kota) di (provinsi) Ifugao. Kami (Suku Ifugao) semua tersebar di 11 municipalities itu,” ucap Rachel Humiwat.

     Karena itu pula, menurut dia, dialek yang digunakan masing-masing Suku Ifugao dari beberapa municipalities ini berbeda pula. “Tapi kami masih tetap satu Ifugao,” ujar Rachel sambil tertawa.

     Budaya tebas kepala saat terjadi perang antar suku di pegunungan ini, menurut dia, telah ditinggalkan beberapa ratus tahun lalu. Terakhir budaya tebas kepala terjadi saat Bangsa Spanyol baru menjelajah pegunungan di Luzon.
     Warga Banaue yang masih keturunan Ifugao lainnya Marites de Castro mengatakan di Banaue semakin sulit mencari orang yang 100 persen Ifugao. Mayoritas telah melakukan kawin campur dengan suku lain di Filipina.

     “Saya juga bukan 100 persen Ifugao, ayah saya Ifugao tapi ibu saya bukan,” ujar Marites.
     Sama halnya dengan suku-suku lain di Asia yang terkenal ramah, berbincang dengan Marites yang keturunan Ifugao ini pun begitu menyenangkan. Wanita setengah baya ini pun cukup lancar berbahasa Inggris.

     “Rata-rata kami bisa berbahasa Inggris karena kami dipaksa untuk bisa berbahasa ini. Jika tidak kami tertinggal pelajaran di sekolah karena guru kami menyampaikan pelajaran dalam bahasa Inggris,” terang Marites.

     Tidak heran meski ratusan kilometer dari Ibukota Manila, bahasa bukan pula menjadi kendala bagi para pendatang asing yang hendak bersosialisasi dengan orang-orang gunung ini.

     Noe Kanuto Mangili (23), pemuda Banaue keturuan Ifugao yang sehari-hari menjadi supir tricycle pun dapat berkomunikasi dengan mudah dalam bahasa Inggris.
     “Semua orang di sini ingin kehidupannya lebih baik, jadi mereka mau belajar (bahasa Inggris) dan bahkan pergi ke kota (Manila),” ujar dia.

     Anak laki-laki pertama dari tujuh bersaudara ini pun mengaku telah menyelesaikan kuliahnya dan sedang menunggu panggilan pekerjaan. Cita-citanya bekerja di kepolisian dan menjadi penyidik.
     “Karena saya ingin melindungi orang, karena itu saya belajar jadi investigator yang baik,” ujar Noe.

     Kawin campur membuat wajah-wajah para keturunan Ifugao pun beragam. Noe yang masih memiliki darah campuran Ifugao dan Jepang dari sang ibu ini tidak tampak seperti orang Jepang namun lebih seperti orang Melayu.

     Sedangkan wajah Rachel yang menjadi petugas wisata justru tampak seperti keturunan Tiongkok atau Jepang. Sementara Marites, ia tampak seperti warga keturunan Melayu kebanyakan dengan kulit berwarna sawo matang.

     Para orang tua Ifugao pun sudah jarang terlihat mengenakan Wanoh, pakaian adat Ifugao yang terbuat dari tenunan berwarna dasar merah. Pakaian itu hanya dikenakan disaat tertentu saja, seperti saat panen raya.
     Orang-orang gunung ini hidup sederhana di alam nan kaya di utara Luzon sebagai petani. Jika membayangkan mereka menginjak tanah yang kaya akan emas, kehidupan mereka tidak lah tercermin di dalamnya.

     Pariwisata yang semakin berkembang di sana pun hanya mampu membuat Banaue, kota yang lebih mirip kecamatan di Pegunungan Cordillera, “hidup” hingga pukul 20.00 waktu setempat. Selebihnya aktivitas senyap, terbatas di dalam rumah-rumah yang tertutup rapat.

Merengkuh Berkah Angkor

Angkor Monk

Berdebu dan gersang, tak tampak sedikit pun air mengalir hanya genangan-genangan berwarna coklat dari beberapa kolam yang juga akan segera mengering oleh teriknya matahari di atas tanah Khmer pada pertengahan bulan Februari. Musim penghujan yang baru saja berlalu tampaknya tidak banyak meninggalkan jejak kesuburan di tanah Kamboja, negara yang baru saja benar-benar merasakan damai usai tergulingnya rezim Khmer Merah pada tahun 1999 lalu.

  Gambaran sebuah kemakmuran dari kerajaan besar bernama Khmer di awal abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-14 pun tak terlihat. Sementara pembangunan negara monarki konstitusional ini pun belum begitu terasa. Alhasil untuk menyeberangi sebuah sungai kecil antara Ho Chi Minh, Vietnam, dan Ibu kota Negara Kamboja, Phnom Penh pun masih harus menggunakan kapal.

  Berkah kesuburan dari Sungai Mekong tampaknya belum disambut oleh tanah kering Kamboja akibat belum adanya sistem irigasi yang sempurna yang mampu membawa tetesan air untuk menghijaukan dataran yang lebih banyak diisi oleh pohon lontar dan belukar tersebut. Kegelapan yang nyaris sempurna saat malam tiba di sepanjang jalan antara Phnom Penh, Kamphong Thom, dan Siem Reap, tidak menyisakan aktivitas apa pun. Bahkan terkadang tidak terlihat satu cahaya pun dari dalam rumah-rumah penduduk yang mayoritas masih berupa panggung tersebut.

  Namun dibalik itu semua Kamboja tetap berdenyut. Adalah Angkor Wat yang sejak awal telah menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja dan tetap menjadi berkah bagi keberlangsungan sosial dan ekonomi penduduk negara tersebut.

  Sebuah magnet kuat membawa banyak bangsa untuk datang ke Kamboja, menyusuri jalan-jalan lurus tanpa mendaki, menyeberangidanau terbesar Tonle Sap yang juga menjadi berkah bagi kehidupan masyarakat Khmer di saat musim kering tiba, melakukan lintas batas negara dengan perjalanan darat selama berjam-jam, menembus debu halus Angkor di saat musim kering tiba. Gelombang pengunjung setiap tahun meningkat hingga kini mampu menembus angka satu juta orang dalam satu tahun. Bahkan pemilik pemerintahan pun harus mengakui bahwa Angkor, untuk saat ini, merupakan pengharapan terbesar bagi rakyatnya.

Berkah Angkor Wat  
Pengharapan ini pula yang pada akhirnya membawa Chin Vanna, seorang pemuda asal Distrik Stung di Provinsi Kompong Tom, datang ke Angkor dan memutuskan menetap di sana untuk menjadi biksu. Kemiskinan menjadi jawaban saat alasan dari keputusan yang ia ambil dipertanyakan. Ia rela meninggalkan keluarga, saudara, teman, dan kampung kelahirannya untuk belajar dan tetap hidup.  

Bahasa menjadi salah satu hal yang ia coba pelajari di Angkor Wat, dan semua orang yang datang ke tempat itu adalah guru terbaik baginya. Tidak heran apabila Chin yang mengaku tidak pernah bersekolah mampu berbahasa inggris dengan cukup baik.

  Dengan senyumnya yang hangat pemuda berusia 24 tahun ini tidak pernah ragu menerima permintaan para turis asing dari berbagai negara, untuk sekedar melakukan foto bersama atau bahkan menjadi obyek foto mereka. Upah dari itu semua, kemampuan berbahasa inggrisnya semakin meningkat.Pada hari ke-4 usai perayaan Tahun Baru China di pertengahan Februari 2010, Chin dengan pakaian biksunya berwarna oranye tampak gembira di tengah kehadiran teman-teman sekampungnya. Hari itu, ia menjadi pemandu wisata bagi teman-temannya. Namun, Chin tetap tidak mau melewatkan kesempatan meningkatkan kemampuan berbahasa inggris. Ia masih juga melayani permintaan para turis asing untuk menjadi obyek foto mereka atau sekedar melakukan foto bersama disaat teman-temannya bersamanya hari itu.

  Tidak begitu jauh berbeda dengan Chin Vanna, seorang pria Kamboja lainnya yang juga tidak berasal dari keluarga berada, pernah memutuskan menjadi biksu dan tinggal di kompleks arkeologi Angkor untuk beberapa saat. Ia adalah Mao Sokhem. Cukup mengagetkan ketika Mao bercerita bahwa ia sebelumnya adalah seorang biksu yang juga pernah tinggal dan belajar di Angkor. Bahasa inggris juga menjadi hal yang ia pelajari selama berada di kawasan candi ini, hingga menjadi bekal untuk pekerjaannya saat ini. Tidak ia jelaskan apakah juga kemiskinan yang telah membawanya ke tempat ini.

  Namun tampaknya Angkor telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, juga keluarga kecilnya. Kini pria muda yang berwajah lebih mirip pria Jepang ini telah dikaruniai seorang anak laki-laki dan berharap segera mendapatkan seorang putri untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya tersebut. “Raja nama anak laki-laki saya,” ujar Mao saat mengatakan nama anak semata wayangnya. Walaupun pria berkumis tipis ini tidak lagi tinggal di dalam kompleks arkeologi Angkor, kehidupannya tidak pernah terlepas dari Angkor. Selama 27 hari dalam satu bulan Mao memandu turis asing yang ingin mengetahui sejarah dan seluk-beluk Angkor Wat ini.

  Dolar AS pun mengalir kekantung-kantung terkecil negara tersebut, termasuk ke kantung celana Ren, anak laki-laki berusia 10 tahun yang hingga larut malam setia menanti datangnya bus-bus pariwisata yang berisi turis-turis asing dari perbatasan Laos, Vietnam, atau pun Thailand yang hendak mengunjungi candi Angkor. “Nanas, nanas, nanas, satu dolar saja. Siapa namamu, kau mau membeli nanas, hanya satu dolar,” teriak Ren hampir pada setiap turis asing yang datang. Bersama anak-anak sepantar lainnya hampir setiap malam ia bersama ibunya menjual nanas, buah lontar, dan pisang kepada turis asing yang singgah di sebuah rumah makan di luar kota Siem Reap tersebut.

  Sama dengan anak-anak lain, tanpa beralas kaki ia menikmati berbincang dengan tamu-tamu asing yang juga tidak merasa terganggu oleh kehadirannya. Ren melafalkan Bahasa inggris sehari-hari dengan baik. Karena itu tidak ada rasa canggung untuk berkomunikasi dengan siapa pun yang datang.

  Ratusan supir tuk-tuk di Siem Reap kini menjadi berpenghasilan, rumah-rumah penduduk kota kecil yang menjadi pusat wisata ini banyak yang disulap menjadi losmen kelas backpacker, motor dan sepeda pun dijajarkan di depan ruko-ruko untuk disewakan, kerajinan sutra dan gerabah dikembangkan, hotel-hotel berbintang didirikan. Pariwisata membuat kehidupan mereka membaik. Berdasarkan data Pemerintah Kamboja, pariwisata memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi 39 persen terhadap Produk Dosmetik Bruto (PDB) negara tersebut di 2006. Di tahun 2008, jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut meningkat pesat menembus angka dua juta orang.

  Mungkin saja Raja Suryavarman II yang membangun Angkor Wat pada kisaran tahun 1112 hingga 1152 tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah diciptakan mampu membuat jutaan orang berdatangan setiap tahunnya dari segala penjuru dunia.

  Dan mungkin juga Raja Suryavarman VII pun tidak pernah berpikir bahwa Angkor yang ditinggalkannya karena dianggap tidak lagi layak untuk bisa menghidupi rakyat Khmer saat itu justru menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja hingga kini.