Merengkuh Berkah Angkor

Angkor Monk

Berdebu dan gersang, tak tampak sedikit pun air mengalir hanya genangan-genangan berwarna coklat dari beberapa kolam yang juga akan segera mengering oleh teriknya matahari di atas tanah Khmer pada pertengahan bulan Februari. Musim penghujan yang baru saja berlalu tampaknya tidak banyak meninggalkan jejak kesuburan di tanah Kamboja, negara yang baru saja benar-benar merasakan damai usai tergulingnya rezim Khmer Merah pada tahun 1999 lalu.

  Gambaran sebuah kemakmuran dari kerajaan besar bernama Khmer di awal abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-14 pun tak terlihat. Sementara pembangunan negara monarki konstitusional ini pun belum begitu terasa. Alhasil untuk menyeberangi sebuah sungai kecil antara Ho Chi Minh, Vietnam, dan Ibu kota Negara Kamboja, Phnom Penh pun masih harus menggunakan kapal.

  Berkah kesuburan dari Sungai Mekong tampaknya belum disambut oleh tanah kering Kamboja akibat belum adanya sistem irigasi yang sempurna yang mampu membawa tetesan air untuk menghijaukan dataran yang lebih banyak diisi oleh pohon lontar dan belukar tersebut. Kegelapan yang nyaris sempurna saat malam tiba di sepanjang jalan antara Phnom Penh, Kamphong Thom, dan Siem Reap, tidak menyisakan aktivitas apa pun. Bahkan terkadang tidak terlihat satu cahaya pun dari dalam rumah-rumah penduduk yang mayoritas masih berupa panggung tersebut.

  Namun dibalik itu semua Kamboja tetap berdenyut. Adalah Angkor Wat yang sejak awal telah menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja dan tetap menjadi berkah bagi keberlangsungan sosial dan ekonomi penduduk negara tersebut.

  Sebuah magnet kuat membawa banyak bangsa untuk datang ke Kamboja, menyusuri jalan-jalan lurus tanpa mendaki, menyeberangidanau terbesar Tonle Sap yang juga menjadi berkah bagi kehidupan masyarakat Khmer di saat musim kering tiba, melakukan lintas batas negara dengan perjalanan darat selama berjam-jam, menembus debu halus Angkor di saat musim kering tiba. Gelombang pengunjung setiap tahun meningkat hingga kini mampu menembus angka satu juta orang dalam satu tahun. Bahkan pemilik pemerintahan pun harus mengakui bahwa Angkor, untuk saat ini, merupakan pengharapan terbesar bagi rakyatnya.

Berkah Angkor Wat  
Pengharapan ini pula yang pada akhirnya membawa Chin Vanna, seorang pemuda asal Distrik Stung di Provinsi Kompong Tom, datang ke Angkor dan memutuskan menetap di sana untuk menjadi biksu. Kemiskinan menjadi jawaban saat alasan dari keputusan yang ia ambil dipertanyakan. Ia rela meninggalkan keluarga, saudara, teman, dan kampung kelahirannya untuk belajar dan tetap hidup.  

Bahasa menjadi salah satu hal yang ia coba pelajari di Angkor Wat, dan semua orang yang datang ke tempat itu adalah guru terbaik baginya. Tidak heran apabila Chin yang mengaku tidak pernah bersekolah mampu berbahasa inggris dengan cukup baik.

  Dengan senyumnya yang hangat pemuda berusia 24 tahun ini tidak pernah ragu menerima permintaan para turis asing dari berbagai negara, untuk sekedar melakukan foto bersama atau bahkan menjadi obyek foto mereka. Upah dari itu semua, kemampuan berbahasa inggrisnya semakin meningkat.Pada hari ke-4 usai perayaan Tahun Baru China di pertengahan Februari 2010, Chin dengan pakaian biksunya berwarna oranye tampak gembira di tengah kehadiran teman-teman sekampungnya. Hari itu, ia menjadi pemandu wisata bagi teman-temannya. Namun, Chin tetap tidak mau melewatkan kesempatan meningkatkan kemampuan berbahasa inggris. Ia masih juga melayani permintaan para turis asing untuk menjadi obyek foto mereka atau sekedar melakukan foto bersama disaat teman-temannya bersamanya hari itu.

  Tidak begitu jauh berbeda dengan Chin Vanna, seorang pria Kamboja lainnya yang juga tidak berasal dari keluarga berada, pernah memutuskan menjadi biksu dan tinggal di kompleks arkeologi Angkor untuk beberapa saat. Ia adalah Mao Sokhem. Cukup mengagetkan ketika Mao bercerita bahwa ia sebelumnya adalah seorang biksu yang juga pernah tinggal dan belajar di Angkor. Bahasa inggris juga menjadi hal yang ia pelajari selama berada di kawasan candi ini, hingga menjadi bekal untuk pekerjaannya saat ini. Tidak ia jelaskan apakah juga kemiskinan yang telah membawanya ke tempat ini.

  Namun tampaknya Angkor telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, juga keluarga kecilnya. Kini pria muda yang berwajah lebih mirip pria Jepang ini telah dikaruniai seorang anak laki-laki dan berharap segera mendapatkan seorang putri untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya tersebut. “Raja nama anak laki-laki saya,” ujar Mao saat mengatakan nama anak semata wayangnya. Walaupun pria berkumis tipis ini tidak lagi tinggal di dalam kompleks arkeologi Angkor, kehidupannya tidak pernah terlepas dari Angkor. Selama 27 hari dalam satu bulan Mao memandu turis asing yang ingin mengetahui sejarah dan seluk-beluk Angkor Wat ini.

  Dolar AS pun mengalir kekantung-kantung terkecil negara tersebut, termasuk ke kantung celana Ren, anak laki-laki berusia 10 tahun yang hingga larut malam setia menanti datangnya bus-bus pariwisata yang berisi turis-turis asing dari perbatasan Laos, Vietnam, atau pun Thailand yang hendak mengunjungi candi Angkor. “Nanas, nanas, nanas, satu dolar saja. Siapa namamu, kau mau membeli nanas, hanya satu dolar,” teriak Ren hampir pada setiap turis asing yang datang. Bersama anak-anak sepantar lainnya hampir setiap malam ia bersama ibunya menjual nanas, buah lontar, dan pisang kepada turis asing yang singgah di sebuah rumah makan di luar kota Siem Reap tersebut.

  Sama dengan anak-anak lain, tanpa beralas kaki ia menikmati berbincang dengan tamu-tamu asing yang juga tidak merasa terganggu oleh kehadirannya. Ren melafalkan Bahasa inggris sehari-hari dengan baik. Karena itu tidak ada rasa canggung untuk berkomunikasi dengan siapa pun yang datang.

  Ratusan supir tuk-tuk di Siem Reap kini menjadi berpenghasilan, rumah-rumah penduduk kota kecil yang menjadi pusat wisata ini banyak yang disulap menjadi losmen kelas backpacker, motor dan sepeda pun dijajarkan di depan ruko-ruko untuk disewakan, kerajinan sutra dan gerabah dikembangkan, hotel-hotel berbintang didirikan. Pariwisata membuat kehidupan mereka membaik. Berdasarkan data Pemerintah Kamboja, pariwisata memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi 39 persen terhadap Produk Dosmetik Bruto (PDB) negara tersebut di 2006. Di tahun 2008, jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut meningkat pesat menembus angka dua juta orang.

  Mungkin saja Raja Suryavarman II yang membangun Angkor Wat pada kisaran tahun 1112 hingga 1152 tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah diciptakan mampu membuat jutaan orang berdatangan setiap tahunnya dari segala penjuru dunia.

  Dan mungkin juga Raja Suryavarman VII pun tidak pernah berpikir bahwa Angkor yang ditinggalkannya karena dianggap tidak lagi layak untuk bisa menghidupi rakyat Khmer saat itu justru menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja hingga kini.