Asrinya Rumah Pengasingan Sang Proklamator

20131019-095635.jpg

Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) — photo © Virna P Setyorini

Sebuah rumah yang terletak di Jalan Perwira, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak ramai dipenuhi puluhan kaum muda. Sebagian sibuk mengeksplorasi setiap sudut rumah, dan sebagian tampak berteduh di bawah pohon rindang di samping rumah.

Maklum saja, meski waktu baru menunjukkan sekitar pukul 09.30 WIT, matahari telah begitu terik menyengat kulit.

Rumah dengan arsitektur lawas zaman kolonial tersebut tampak begitu asri dengan hamparan rumput gajah nan hijau di halamannya dan beberapa pot bunga yang tersusun rapi di berandanya.

Tampak jelas rumah tua tersebut baru direnovasi. Cat dinding rumah terlihat masih bersih, pagar besi di depan rumah pun tampak modern, begitu pula langit-langit rumah terbuat dari bambu yang terkesan model lama sesuai aslinya namun tampak masih baru.

Rumah tiga kamar tersebut juga memiliki kamar khusus untuk bersembahyang di bagian belakang yang terkunci rapat, sedangkan dapur, kamar mandi, toilet, dan sumur berada di bangunan berbeda di belakang rumah.

Sebagian halaman belakang rumah ini pun tertata rapi dan “berkarpetkan” rumput gajah nan hijau. Pada satu sudut di tembok halaman belakang tertera beberapa nama bank nasional dan perusahaan swasta.

Agaknya renovasi rumah tua bersejarah ini telah banyak disponsori oleh perusahaan-perusahaan tersebut meski semua memang berawal dari janji Boediono saat belum menjadi wakil presiden untuk merenovasi situs bersejarah tersebut.

Tidak ada kesan suram atau mistis sama sekali di rumah tua ini, justru suasana terasa sangat tenang dan nyaman meski pengunjung cukup banyak. Tidak heran jika banyak ide-ide besar dari Sang Proklamator Ir. Soekarno muncul saat menempati rumah ini bersama istrinya Inggit Ganarsih selama diasingkan oleh Belanda pada tahun 1934–1938.

Dapat dibayangkan bagaimana suasa Ende dan rumah pengasingan tersebut 79 tahun lalu ketika Ir Soekarno menjalani pengasingan di sana. Tempat tersebut tentu jauh lebih tenang dibandingkan saat ini.

Tidak jauh dari rumah pengasingan, kurang dari satu kilometer, di sebuah lapangan–yang sekarang berubah bentuk menjadi taman yang penyelesaiannya masih dikerjakan di pertengahan September 2013–terdapat Pohon Sukun yang cukup terkenal keberadaannya.

Pohon Sukun bercabang lima yang sering didatangi Bung Karno tersebut konon yang memunculkan gagasan hingga lahirlah lima butir Pancasila. Pohon Sukun yang saat ini berada di Taman Pancasila di Kota Ende adalah pohon yang sama yang dahulu sering dikunjungi Sang Proklamator.

Sebuah patung Soekarno muda duduk di sisi sebelah kiri di sebuah bangku yang dibuat sangat panjang, sedangkan pohon sukun berada tepat di sebelah kiri patung, dan hanya berjarak sekitar 5 meter saja.

Ramai Pengunjung

Rumah tempat pengasingan Bung Karno di Ende ini dijaga seorang diri oleh Syafrudin. Dia menjadi penerus sang ayah yang sebelumnya juga menjaga tempat tersebut hingga akhir hayat.

Hampir setiap hari dia mengaku berada di rumah tersebut. Hari libur Syafrudin pun bukan Sabtu atau Minggu seperti orang kebanyakan karena pada hari-hari tersebut justru pengunjung banyak yang datang.

“Pada hari libur kadang ada juga yang mendatangi saya di rumah karena ada tamu jauh yang datang ingin melihat situs rumah pengasingan Bung Karno. Ya, saya harus datang ke sini,” kata Safrudin.

Menurut dia, rumah pengasingan Bung Karno ini tidak pernah sepi pengunjung. Ada saja yang datang baik perorangan maupun rombongan, baik wisatwan domestik maupun turis asing.

Bagaimana mungkin turis asing banyak yang datang. Apa mereka begitu tertarik dengan sejarah bangsa ini hingga mendatangi rumah tersebut?

Menurut Syafrudin, rumah tua yang baru selesai direnovasi dan telah ditetapkan menjadi Situs Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya tersebut dimasukkan oleh para agen perjalanan yang kebanyakan dari Bali ke dalam agenda tour mereka.

Paket tour tersebut biasanya mencakup mengunjungi Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, tour sejarah ke situs rumah pengasingan Bung Karno di Ende, hingga trekking ke Danau Kelimutu.

Menurut Syafrudin, rumah pengasingan Soekarno ini sebelumnya tidak terawat. Dalam arti tidak ada dana perawatan sedikit pun dari pemerintah mengalir, kecuali dana sumbangan seadanya yang didapat dari setiap pengunjung yang datang.

Oleh karena itu, dia pun mengaku senang dengan adanya renovasi tersebut. Dia senang melihat wajah-wajah puas para pengunjung yang merasa nyaman berada di rumah tersebut.

Salah seorang pengunjung yang ternyata adalah mahasiswa yang baru lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta mengaku pertama berkunjung ke situs tersebut. Bersama beberapa teman satu angkatan dia akan ditempatkan di beberapa sekolah negeri di Ende.

Sebelum mereka berpisah untuk menempati pos masing-masing mereka berkunjung dan beberapa tampak merenung di dalam rumah bersejarah tersebut. Bahkan salah satu mahasiswi terlihat lama duduk seorang diri di beranda belakang rumah dan berdoa.

Setelah berkunjung ke rumah pengasingan Sang Proklamator mereka akhirnya berjalan beramai-ramai menuju Taman Pancasila. Beberapa menghabiskan waktu berfoto di depan patung Soekarno muda, beberapa memilih berteduh di bawah pohon sukun yang menjadi tempat bersejarah lahirnya Pancasila.

Jarak situs dengan Bandar Udara H Hasan Aroeboesman pun tidak begitu jauh mengingat Kota Ende memang juga tidak terlampau luas. Dengan menumpang ojek hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, dan cukup membayar Rp10.000 saja.

Tidak lengkap jika menjelajah Flores tidak mampir ke Ende untuk mengunjungi situs bersejarah tersebut. Bagaimana pun situs tersebut menjadi salah satu bagian penting dari berdirinya negara Indonesia.

Merengkuh Berkah Angkor

Angkor Monk

Berdebu dan gersang, tak tampak sedikit pun air mengalir hanya genangan-genangan berwarna coklat dari beberapa kolam yang juga akan segera mengering oleh teriknya matahari di atas tanah Khmer pada pertengahan bulan Februari. Musim penghujan yang baru saja berlalu tampaknya tidak banyak meninggalkan jejak kesuburan di tanah Kamboja, negara yang baru saja benar-benar merasakan damai usai tergulingnya rezim Khmer Merah pada tahun 1999 lalu.

  Gambaran sebuah kemakmuran dari kerajaan besar bernama Khmer di awal abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-14 pun tak terlihat. Sementara pembangunan negara monarki konstitusional ini pun belum begitu terasa. Alhasil untuk menyeberangi sebuah sungai kecil antara Ho Chi Minh, Vietnam, dan Ibu kota Negara Kamboja, Phnom Penh pun masih harus menggunakan kapal.

  Berkah kesuburan dari Sungai Mekong tampaknya belum disambut oleh tanah kering Kamboja akibat belum adanya sistem irigasi yang sempurna yang mampu membawa tetesan air untuk menghijaukan dataran yang lebih banyak diisi oleh pohon lontar dan belukar tersebut. Kegelapan yang nyaris sempurna saat malam tiba di sepanjang jalan antara Phnom Penh, Kamphong Thom, dan Siem Reap, tidak menyisakan aktivitas apa pun. Bahkan terkadang tidak terlihat satu cahaya pun dari dalam rumah-rumah penduduk yang mayoritas masih berupa panggung tersebut.

  Namun dibalik itu semua Kamboja tetap berdenyut. Adalah Angkor Wat yang sejak awal telah menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja dan tetap menjadi berkah bagi keberlangsungan sosial dan ekonomi penduduk negara tersebut.

  Sebuah magnet kuat membawa banyak bangsa untuk datang ke Kamboja, menyusuri jalan-jalan lurus tanpa mendaki, menyeberangidanau terbesar Tonle Sap yang juga menjadi berkah bagi kehidupan masyarakat Khmer di saat musim kering tiba, melakukan lintas batas negara dengan perjalanan darat selama berjam-jam, menembus debu halus Angkor di saat musim kering tiba. Gelombang pengunjung setiap tahun meningkat hingga kini mampu menembus angka satu juta orang dalam satu tahun. Bahkan pemilik pemerintahan pun harus mengakui bahwa Angkor, untuk saat ini, merupakan pengharapan terbesar bagi rakyatnya.

Berkah Angkor Wat  
Pengharapan ini pula yang pada akhirnya membawa Chin Vanna, seorang pemuda asal Distrik Stung di Provinsi Kompong Tom, datang ke Angkor dan memutuskan menetap di sana untuk menjadi biksu. Kemiskinan menjadi jawaban saat alasan dari keputusan yang ia ambil dipertanyakan. Ia rela meninggalkan keluarga, saudara, teman, dan kampung kelahirannya untuk belajar dan tetap hidup.  

Bahasa menjadi salah satu hal yang ia coba pelajari di Angkor Wat, dan semua orang yang datang ke tempat itu adalah guru terbaik baginya. Tidak heran apabila Chin yang mengaku tidak pernah bersekolah mampu berbahasa inggris dengan cukup baik.

  Dengan senyumnya yang hangat pemuda berusia 24 tahun ini tidak pernah ragu menerima permintaan para turis asing dari berbagai negara, untuk sekedar melakukan foto bersama atau bahkan menjadi obyek foto mereka. Upah dari itu semua, kemampuan berbahasa inggrisnya semakin meningkat.Pada hari ke-4 usai perayaan Tahun Baru China di pertengahan Februari 2010, Chin dengan pakaian biksunya berwarna oranye tampak gembira di tengah kehadiran teman-teman sekampungnya. Hari itu, ia menjadi pemandu wisata bagi teman-temannya. Namun, Chin tetap tidak mau melewatkan kesempatan meningkatkan kemampuan berbahasa inggris. Ia masih juga melayani permintaan para turis asing untuk menjadi obyek foto mereka atau sekedar melakukan foto bersama disaat teman-temannya bersamanya hari itu.

  Tidak begitu jauh berbeda dengan Chin Vanna, seorang pria Kamboja lainnya yang juga tidak berasal dari keluarga berada, pernah memutuskan menjadi biksu dan tinggal di kompleks arkeologi Angkor untuk beberapa saat. Ia adalah Mao Sokhem. Cukup mengagetkan ketika Mao bercerita bahwa ia sebelumnya adalah seorang biksu yang juga pernah tinggal dan belajar di Angkor. Bahasa inggris juga menjadi hal yang ia pelajari selama berada di kawasan candi ini, hingga menjadi bekal untuk pekerjaannya saat ini. Tidak ia jelaskan apakah juga kemiskinan yang telah membawanya ke tempat ini.

  Namun tampaknya Angkor telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, juga keluarga kecilnya. Kini pria muda yang berwajah lebih mirip pria Jepang ini telah dikaruniai seorang anak laki-laki dan berharap segera mendapatkan seorang putri untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya tersebut. “Raja nama anak laki-laki saya,” ujar Mao saat mengatakan nama anak semata wayangnya. Walaupun pria berkumis tipis ini tidak lagi tinggal di dalam kompleks arkeologi Angkor, kehidupannya tidak pernah terlepas dari Angkor. Selama 27 hari dalam satu bulan Mao memandu turis asing yang ingin mengetahui sejarah dan seluk-beluk Angkor Wat ini.

  Dolar AS pun mengalir kekantung-kantung terkecil negara tersebut, termasuk ke kantung celana Ren, anak laki-laki berusia 10 tahun yang hingga larut malam setia menanti datangnya bus-bus pariwisata yang berisi turis-turis asing dari perbatasan Laos, Vietnam, atau pun Thailand yang hendak mengunjungi candi Angkor. “Nanas, nanas, nanas, satu dolar saja. Siapa namamu, kau mau membeli nanas, hanya satu dolar,” teriak Ren hampir pada setiap turis asing yang datang. Bersama anak-anak sepantar lainnya hampir setiap malam ia bersama ibunya menjual nanas, buah lontar, dan pisang kepada turis asing yang singgah di sebuah rumah makan di luar kota Siem Reap tersebut.

  Sama dengan anak-anak lain, tanpa beralas kaki ia menikmati berbincang dengan tamu-tamu asing yang juga tidak merasa terganggu oleh kehadirannya. Ren melafalkan Bahasa inggris sehari-hari dengan baik. Karena itu tidak ada rasa canggung untuk berkomunikasi dengan siapa pun yang datang.

  Ratusan supir tuk-tuk di Siem Reap kini menjadi berpenghasilan, rumah-rumah penduduk kota kecil yang menjadi pusat wisata ini banyak yang disulap menjadi losmen kelas backpacker, motor dan sepeda pun dijajarkan di depan ruko-ruko untuk disewakan, kerajinan sutra dan gerabah dikembangkan, hotel-hotel berbintang didirikan. Pariwisata membuat kehidupan mereka membaik. Berdasarkan data Pemerintah Kamboja, pariwisata memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi 39 persen terhadap Produk Dosmetik Bruto (PDB) negara tersebut di 2006. Di tahun 2008, jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut meningkat pesat menembus angka dua juta orang.

  Mungkin saja Raja Suryavarman II yang membangun Angkor Wat pada kisaran tahun 1112 hingga 1152 tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah diciptakan mampu membuat jutaan orang berdatangan setiap tahunnya dari segala penjuru dunia.

  Dan mungkin juga Raja Suryavarman VII pun tidak pernah berpikir bahwa Angkor yang ditinggalkannya karena dianggap tidak lagi layak untuk bisa menghidupi rakyat Khmer saat itu justru menjadi jantung dari kehidupan masyarakat Kamboja hingga kini.